Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 April 2012

Foto Tomket dan Cara Membasmi Serangga Tersebut





Foto serangga Tomket dan Cara Mengatasi Serangga Tomket Tersebut. Binatang Sebesar lidi 1 cm - Tomcat atau Kumbang Rove atau lebih dikenali juga dengan nama daerah Semut Semai, Semut Kayap atau Charlie. Kumbang ini mempunyai ukuran kurang daripada 1 cm panjang. Badannya berwarna kuning gelap di bagian atas, bawah abdomen dan kepala berwarna gelap. Bagian tengah abdomen yang berwarna hijau tua mempunyai sepasang sayap keras. Biasanya, kumbang ini kelihatan merangkak di kawasan sekeliling dengan menyembunyikan sayapnya dan dalam sekali pandang ia lebih menyerupai semut. Apabila diganggu kumbang ini akan menaikkan bahagian abdomen supaya kelihatan seperti kala jengking untuk menakutkan musuh.Yang Menyebabkan Reaksi Kulit.

Warga Tasikmalaya tepatnya di daerah Parungponteng Desa Cibungur Kab. Tasikmalaya digegerkan dengan penemuan 2 ekor tomcat berada di pagar depan halaman rumah Bapak Firman (27). "Tadi saya menemukan dua ekor tomket tadi pagi di depan rumah saya dan segera saya bakar.." ujar Firman.

Kehawatiran ini akan terus meningkat serupa dengan populasi binatang tomket yang semakin banyak. "Dulu saya pernah terkena tomket dan badan saya langung memerang panas, ketika itu saya lagi lewat di 'galengan' sawah" ujarnya.

Kumbang ini tidak menyengat atau menggigit. Cairan hemolimf yang terdapat di dalam badan (kecuali sayap) kumbang ini mengandungi racun sentuhan hewan yang paling berbisa di dunia. Toksin ini dikenali sebagai ‘aederin’: (C24 H43 O9 N) dinamakan dalam tahun 1953. Cairan ini disinyalir 12x lebih mematikan dari bisa ular kobra!!

Cara Membasmi Serangga Tomcat
Komposisi bahan yang perlu disediakan adalah campuran 1 kilogram daun mimba, 1 kilogram lengkuas, dan 1 kilogram serai. Bahan-bahan itu kemudian digiling dan dimasukkan ke dalam 5 liter air, setelah itu dibiarkan selama dua hari. Cairan itu bisa digunakan untuk menyemprot tomcat. "Pestisida ini berasal dari bahan organik dan tidak akan merusak habitat lain" katanya.

Hingga hari ini, kata Samsul, pihaknya sudah menurunkan tim untuk melakukan penyemprotan di 17 lokasi. Timnya akan terus melakukan penyemprotan ke lokasi lain berdasarkan laporan masyarakat.

Sejak empat hari lalu, warga di beberapa kawasan Kota Surabaya dicemaskan oleh serangan tomcat, serangga yang mengeluarkan cairan beracun yang dapat merusak kulit.

Selasa, 28 Februari 2012

Ilmuwan Temukan Flu Kelelawar yang Bisa Jadi Ancaman Manusia




Setelah flu burung dan flu babi, untuk pertama kalinya ilmuwan menemukan bukti adanya flu pada kelelawar. Meski belum jelas apakah berisiko pada manusia, namun flu jenis baru ini masih bisa menjadi ancaman.

Lima tahun yang lalu, virologists Rusia mengklaim telah menemukan flu kelelawar, tetapi para ilmuwan tersebut tidak pernah menawarkan bukti. Dan untuk pertama kalinya kini ilmuwan benar-benar bisa menemukan bukti.

Bat Flu
Penemuan mengejutkan fragmen genetik dari virus flu dilaporkan ditemukan pada mamalia bersayap kelelawar. Sejauh ini, ilmuwan belum mampu menumbuhkan virus tersebut dalam kultur sel manusia dan belum jelas apakah bisa menyebar pada manusia.

Virus flu yang biasa ditemukan pada manusia, burung dan babi bahkan telah terlihat pada mamalia jenis lain, seperti anjing, kuda, anjing laut dan ikan paus.

"Kebanyakan orang cukup yakin kami telah menemukan flu di semua hewan yang memungkinkan," jelas Ruben Donis, peneliti dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang juga menulis studi, seperti dilansir msnbc, Selasa (28/2/2012).

Para ilmuwan menduga bahwa beberapa kelelawar sudah 'menangkap' virus flu seabad yang lalu dan virus tersebut bermutasi dalam populasi kelelawar dengan varietas yang baru.

Ilmuwan bahkan belum mampu menumbuhkan virus baru dalam telur ayam atau dalam kultur sel manusia, seperti yang dilakukan pada strain flu yang lebih konvensional.

Tapi virus ini masih bisa menimbulkan ancaman bagi manusia. Misalnya, jika bercampur dengan bentuk yang lebih umum dari influenza, bisa bertukar gen dan bermutasi menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Penelitian ini telah diposting secara online di jurnal Proceeding of National Academy of Sciences.


sumber :  http://www.unikaja.com/2012/02/ilmuwan-temukan-flu-kelelawar-yang-bisa.html
 
') }else{document.write('') } }